Raden Antareja merupakan putra Werkudara dengan Dewi Nagagini, putri dewa ular bernama Bathara Anantaboga. Tokoh ini tidak disebutkan dalam Kitab Mahabarata, hanya ada dalam pewayangan Jawa. Pada versi Surakarta, Antareja disebut juga Antasena. Sedangkan versi Yogyakarta, keduanya adalah tokoh yang berbeda. Saat beranjak dewasa, Antareja pergi mencari ayahnya setelah sekian lama ia tinggal bersama ibu dan kakeknya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan mayat perempuan di atas perahu. Berkat ajian Mustikabumi yang dimilikinya, ia mampu menghidupkan kembali wanita itu yang ternyata adalah bibinya, Dewi Sembadra. Namun demikian, tiba-tiba ia diserang oleh Gatotkaca yang bertugas menjaga mayat Dewi Sembadra. Sang dewi akhirnya melerai mereka dan mengatakan bahwa mereka bersaudara. Sebagai cucu dewa ular, Antareja memiliki kesaktian yaitu jika ia menjilat bekas telapak kaki seseorang, maka pemilik telapak kaki tersebut akan binasa seketika. Dewa khawatir jika Antareja ikut dalam perang Baratayuda tidak akan mendapatkan lawan yang sepadan. Atas siasat Kresna, Antareja dijebak dengan menjilat bekas telapak kakinya sendiri. Akhirnya ia menyaksikan perang Baratayuda dari surga yang penuh keabadian.
–
Ayo menjadi generasi #AkuCintaWayang#AkuCintaBudayaIndonesia agar budaya kita yang adi luhung ini selalu lestari! Mau tau lebih banyak cerita tokoh wayang? Follow @ceritawayang yaa! 🙂





