Sebenarnya Semar tidak terdapat pada Kitab Mahabarata, kehadirannya murni karangan pujangga Jawa. Ia merupakan tokoh utama punokawan dan menjadi ayah angkat dari Gareng, Petruk, dan Bagong. Bersama anggota Punokawan, dirinya bertugas menjadi pengasuh satria dalam menjalankan darmanya. Posisi Semar dalam pewayangan Jawa cukuo istimewa, derajatnya mirip seperti Prabu Kresna yang menjadi penasehat agung para Pandawa. Bahkan, Semar dikisahkan merupakan dewa pangejawantah yang sedang turun ke bumi. Suatu ketika, Sang Hyang Tunggal menciptakan sebuah telur. Kemudian telur tersebut berubah wujud. Kulit telur berubah menjadi Sang Hyang Antaga, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya, dan kuning telur menjadi Sang Hyang Manikmaya. Suatu hari Sang Hyang Tunggal menunjuk Sang Hyang Manikmaya untuk menjadi penguasa kahyangan. Hal ini membuat kedua anaknya yang lebih tua merasa iri. Sang Hyang Antaga dan Ismaya kemudian menantang Manikmaya. Mereka mengadakan sayembara unjuk kesaktian, barang siapa berhasil memakan gunung dan memuntahkan kembali maka dia yang berhak menguasai kahyangan.
Sang Hyang Antaga kesulitan menelan gunung bahkan membuat mulutnya robek, akhirnya ia menjadi bermulut lebar dan kemudian disebut Togog. Giliran selanjutnya adalah Sang Hyang Ismaya. Ia sukses menelan gunung namun tak berhasil memuntahkannya kembali. Akibatnya tubuhnya menjadi besar dan diberi nama Semar. Belum tiba giliran Sang Hyang Manikmaya karena gunung masih ada dalam perut Sang Hyang Ismaya, tiba-tiba Sang Hyang Tunggal datang dan murka mengetahui adanya sayembara itu. Akhirnya Togog dan Semar dihukum untuk turun ke bumi menjadi pengasuh para satria, sedangkan Sang Hyang Manikmaya atau selanjutnya disebut Bathara Guru ditasbihkan menjadi raja para dewa dan menguasai 3 alam, yakni mayapada, madyapada, dan arcapada. Semar bertugas mendampingi satria berwatak baik seperti Pandawa. Kehadirannya dalam pewayangan juga membawa humor yang menjadikan pertunjukkan semakin hidup. Ada satu segmen dalam pewayangan saat Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong bersenda gurau, yaitu gara-gara.





